Postingan

Menakar Ke-indonesiaan : Tionghoa Diatas Kanvas

Gambar
Menakar Ke-indonesiaan : Tionghoa Diatas Kanvas Oleh : Ardian Purwoseputro
Melukis  Hal-Hal Terindah dan Terbaik tentang Nusantara, sebuah Preambule Seakaan tiada akhir, itulah sebuah ironi kemajemukan di bumi Nusantara ini. Nusantara yang kini disapa dengan Indonesia, sejak kala purba telah dianugerahi dengan  bermacam-macam  suku bangsa, bahasa, adat istiadat, kepercayaan yang mendiami dan tumbuh subur berserakan di antara nusa-nusanya dan laut-lautnya yang gemah ripah loh jinawi.  Sebuah karunia terbesar yang tiada duanya di planet biru ini!. Sayang karunia-karunia besar itu tidak dimanfaatkan secara  maksimalsebagai kekuatan untuk membangun kebesaran bangsa. Yang terjadi adalah, bangsa ini selalu tercabik-cabik dan dilukai dengan isu-isu yang benuansa SARA yang tiada pernah berakhir, mengakar bagaikan sel-sel  kanker  yang segera melumpuhkan bahkan mematikan tubuh  bangsa ini.Bagaikan bom waktu yang disimpan di rumah sendiri, yang bubuk mesiunya selalu diisi terus menerus, kemudian …

The Madness of Art: Giant Paintings of The Lunatics

Gambar
Kegilaan adalah energi yang dahsyat untuk berkarya. Jika diolah dengan tepat, kegelisahan sehari-hari bisa menjelma menjadi karya. Hal tersebut dialami oleh tiga pelukis tangguh: Seruni Bodjawati, Sri Harjanto Sahid, dan Wara Anindyah. Darah seni mengalir deras dalam tubuh mereka, mengukuhkan ketiganya sebagai satu keluarga. Meski demikian, masing-masing memiliki keunikan sendiri dalam melukis. Seruni Bodjawati berkarya dengan menggebu-gebu. Menyulap segala beban pikiran menjadi lukisan ekspresionis yang mengguncang. Sangat detail akan penghayatan. Sementara itu, imajinasi yang nakal tapi cerdas adalah kelebihan Sri Harjanto Sahid. Renungannya akan kehidupan mewujud dalam berbagai warna, bentuk, dan komposisi yang tak wajar. Unik serta memikat. Sedangkan Wara Anindyah bermain-main dengan kegelisahan batinnya. Mengolah emosi menjadi lukisan yang tak biasa. Bernuansa dalam dan kelam. Ketiga pelukis ini digerakkan oleh kegilaan. Mereka disebut sebagai lunatics, yakni orang-orang gila yang…

Amor Fati in Absentia: Duo Exhibition by Wara Anindyah & Seruni Bodjawati, Book Launching by Ratu Pandan Wangi

Gambar
Pameran dan Book Launching Amor Fati in Absentia
Yogyakarta, 7 Maret 2017. Malam ini Seruni Art Management menyelenggarakan pameran lukisan di Greenhost Boutique Hotel, Prawirotaman. Dengan tajuk Amor Fati in Absentia, hadirlah pertarungan artistik ibu-anak antara Wara Anindyah dan Seruni Bodjawati. Pameran diresmikan oleh Elisabeth Inandiak, sastrawati pemenang Penghargaan Sastra Asia dan penerjemah Serat Centhini. Hingga 7 April 2017, enam belas lukisan Wara dan Seruni akan dipamerkan. Karya-karya tersebut terinspirasi oleh buku kumpulan cerpen Ratu Pandan Wangi (penulis dan pemerhati budaya dari Sastra Perancis UGM). Diharap audiens dapat memahami kompleksnya manusia dalam memaknai cinta.

Wara Anindyah dan Seruni Bodjawati adalah dua perupa perempuan yang karya-karyanya memiliki karakteristik kuat. Karya-karya Wara mengandung kedalaman makna yang kontemplatif, sedangkan Seruni berani menghadirkan objek-objek visual yang intens dan dramatis. Dengan tema-tema yang menggambarkan pergul…

Hangatnya Persahabatan 54 Seniman dalam Pameran Rukun Iman

Gambar
Malam itu Tahunmas Artroom tampak sangat ramai. Ratusan orang mengantre untuk menyaksikan Pembukaan Pameran Rukun Iman, Jumat (15/12). Antusiasme tampak jelas di wajah pengunjung. Mereka menikmati puluhan karya yang dipajang apik. Pameran di Kasongan, Yogyakarta ini diikuti oleh 54 seniman pendatang dan senior dengan segudang prestasi. Kebanyakan peserta berasal dari Yogyakarta, tetapi ada juga yang berasal dari luar kota. Mereka bersatu dengan membawa keunikan masing-masing. Persahabatan yang hangat dan gotong royong yang kuat mewarnai pelaksanaan pameran dari awal hingga akhir.
Pameran ini adalah gagasan Alm. Lulus Santosa selaku kurator. Ia mengangkat tajuk “Rukun Iman” yang berarti kerukunan dan kepercayaan pada sesama teman. Bekerja sama dengan Seruni Art Management, pameran ini dilaksanakan untuk menjalin kerukunan antar-seniman. Begitu banyak perupa yang hidup dari dunia seni. Dibutuhkan ikatan dan persahabatan yang erat untuk kelangsungan berkarya. Saling dukung sangat dibutuhk…

Pameran "Sastra Rupa Sri Harjanto Sahid': Menaklukkan Badai, Memburu Masa Lalu

Gambar
Karena cinta beha-Mu kubuka kunikmati isinya.
PUISI yang diresensi sebuah koran sekitar tahun 1983-1985 (lupa persisnya) itu mengendap dalam benak hingga saat ini. Waktu itu saya masih SMP. Membaca resensi tersebut di papan baca SMPN Tridadi Sleman. Bukan 'kekurangajaran' puisi berjudul Buah Dada, Buah Cinta yang sebenarnya religius yang menarik. Tapi sosok penyairnya: Sri Harjanto Sahid yang dalam ulasan tersebut disebut 'fotokopi' Rendra (karena membaca puisinya 'nggegirisi' seperti Rendra). Menarik. Makin menyemangati mewujudkan cita-cita sebagai penyair yang (saat itu) 'berkibar-kibar'. Makin terkagum setelah melihat Harjanto tampil di TVRI Yogya sekitar 1985, diwawancara setelah jadi aktor terbaik nasional. Penampilannya khas seniman, berambut gondrong. Namun dengan tutur bahasa begitu halus. Sopan. Di acara itu Harjanto membaca puisi Rendra berjudul Gugur. Kehebatan membaca puisi tersebut menambah gairah merambah kancah kesenian. Nama Sri Harjanto Sahi…

Pameran Tunggal Wara Anindyah: Opus Pengantin dan Keluarga Tionghoa

Gambar
Pelukis Wara Anindyah kembali berpameran tunggal. Kali ini di Natan Art Space, Ndalem Natan Royal Heritage Kotagede Yogyakarta. Mengusung tema Cinta yang Indah. Sebanyak 65 lukisan dipajang di tempat tersebut, mulai 21 Oktober-17 November 2016. Siapapun tahu, Wara bukan pelukis baru. Bisa dibilang, termasuk salah satu pelukis papan atas Yogya dan Indonesia. Karya-karyanya punya ciri khas dan berkarakter. Mayoritas lukisan yang dipajang di pameran yang dikuratori Ratu Pandan Wangi ini bertema pengantin. Seperti lukisan berjudul Pernikahan Matahari ddan Bulan, Pengantin Jawa, Sehidup  Semati, Janji Suci, Cinta Sunyi, Lonceng Kebahagiaan, Membuka Kelambu Kebahagiaan, Hari Baru Terbuka, Lagu Cinta, Cinta dan Kemakmuran. Selain memang suka menuangkan imajinasi beraroma kebahagiaan (menikah), lokasi pameran juga menjadi latar belakang diusungnya banyak lukisan bertema pengantin.  Menurut Sri Harjanto Sahid, manajer Wara Anindyah, Ndalem Natan sering digunakan untuk respsi pengantin. Tercatat 1…

Keindahan di Balik Pameran Wara Anindyah

Gambar
MALAM itu Ndalem Natan Royal Heritage tampak menawan. Lampu yang remang-remang membiaskan cahaya romantis ke arsitektur bangunannya yang antik. Lebih dari seratus orang dari berbagai negara hadir untuk menyaksikan pembukaan pameran tunggal lukisan Wara Anindyah pada Jumat (21/10). Tak lama kemudian, gong dibunyikan oleh Prof Nasir Tamara sebagai tanda peresmian pameran. Pintu-pintu galeri pun dibuka, memperlihatkan deretan lukisan yang dipajang apik. Pengunjung pun menyeruak masuk untuk menghikmati karya sang pelukis. Dengan mengusung tema Cinta yang Indah, pameran itu menghadirkan 61 lukisan dalam berbagai ukuran. Semua ditata di sudut-sudut Natan Art Space. Lantai satu didominasi karya-karya berukuran kecil yang manis. Terdapat jajaran lukisan hitam putih dengan bingkai emas. Sebagian menggambarkan orang-orang Tionghoa dalam berbagai adegan. Di antaranya, karya berjudul Putri sang Surya (2016) yang melukiskan sepasang suami istri menggendong bayinya yang baru lahir. Bayi itu melamb…