CINTA YANG INDAH: PAMERAN TUNGGAL WARA ANINDYAH


Lukisan adalah gerbang untuk menyelami jiwa senimannya. Melalui kanvas dan cat, pelukis bebas menuangkan imajinasi dan kegelisahan batin. Itulah yang dilakukan Wara Anindyah selama puluhan tahun. Wara terkenal akan karya-karyanya yang bertema berat, dengan suasana ganjil dan bernuansa cenderung kelam. Ia mampu menghadirkan keindahan di balik ketegangan psikologis. Sungguh mengusik batin siapapun yang melihat. Periode tersebut adalah bagian dari tapak-tapak kecil sepanjang kariernya. Padahal sebenarnya Wara juga menciptakan karya berjumlah cukup banyak yang bertema ringan, lunak, dan lembut. Menonjolkan keceriaan, kebahagiaan, serta merayakan keindahan hidup dan kehidupan. Digarap sangat apik, super-artistik, dan elok dipandang mata, serta memperkaya dan menimbulkan pencerahan bagi jagat batin.
Melalui pameran bertajuk “Cinta yang Indah”, penikmat seni dapat menyaksikan sisi lain dari lukisan Wara. Perhelatan ini merupakan pameran tunggalnya yang ke-13. Sebanyak 61 lukisan yang ditampilkan berfokus pada makna cinta dalam kajian yang filosofis dan simbolis. Tak terlalu berat namun menukik ke dalam. Visualisasinya mewah dan hiper-estetis. Menjadi santapan lezat bagi mata maupun jiwa. Pengunjung diajak memahami makna cinta melalui berbagai objek memikat. Menurut catatan, di Natan Art Space telah diselenggarakan sekitar 1.500 kali acara pesta pernikahan. Kini pameran Wara ikut merayakan keindahan cinta di tempat ini. Cukup seperti itulah yang mesti saya sampaikan selaku kurator pameran. Saya tak ingin bicara banyak tentang karya Wara. Sebab tiap karya Wara pasti lebih pintar berbicara tentang dirinya sendiri daripada siapapun juga. Bahkan lebih pintar daripada pelukisnya sendiri. Lebih baik marilah kita simak pendapat berbagai media massa dan tokoh terkenal tentang Wara dan karyanya. Sebagian cuplikannya terkutip di bawah ini.

Ratu Pandan Wangi
Kurator Pameran

“Di ruang gambar Wara Anindyah, hidup menjadi demikian kelabu, sunyi, terasing, melankolis, sekaligus jauh dari harapan untuk bahagia. Namun, di situ terkandung pula perjuangan untuk tidak pernah menyerah. Sisi gelap dihadirkan justru untuk menggugah perenungan demi mencapai titik terang.”

Triyanto Triwikromo. “Lukisan Wara: Manusia yang Dihimpit Beban Hidup”. Suara Merdeka, 3 Agustus 1997

“Kecenderungan melukis manusia-manusia gempal—dengan porsi lemak berlebihan meliliti tubuh—merupakan upaya Wara menumpahkan segala beban menghimpit. Beban yang menghimpit setiap manusia yang peduli dengan hal-hal intrinsik: cita-cita, identitas, spiritualitas, eksistensi, atau semacam makna hidup. Nyatanya, dengan pilihan itu, ia berhasil menggeser persepsi bahwa tubuh gempal nyaris identik dengan bahan komedi.”

Afnan Malay. “Porsi Besar Estetika Pastel”. Ummat, 18 Agustus 1997

            “Temanya luas dan tak terbatas. Setiap soal yang diungkapnya merupakan obsesi dan mengendap dalam pusat kejiwaan.”

Arie Soedibyo. “Wara Anindyah: Perempuan Itu Cantik dan Kuat”. Minggu Pagi, 3 Juli 1999

            “Ia adalah tipe seniman dengan bakat keresahan yang sublim: memasuki ruang kegelisahan bagi dia bukan suatu perjalanan yang berbahaya. Melainkan suatu tamasya arkeologis menemukan kecemasan personal. Itulah yang dia eksplorasi.”

Seno Joko Suyono. “Lorong Duka Sang Pengantin”. DR, 2-7 Agustus 1999

            “Wara menggebrak bak banteng ketaton, banteng yang terluka. Ada objek ataupun tidak, asal ide muncul, Wara langsung menggaet kuas, langsung kebut. Seperti diburu waktu Wara gampang sekali berimprovisasi.
            Ketegangan apakah yang dirundung Wara? Ketegangan kreativitas, psikologis, ontologis, atau ambivalensi? Semuanya. Agaknya Wara menikmati benar ketegangan itu, baik yang fisik maupun metafisik. Wara selalu disundul-sundul energinya yang meluap-luap.”

Danarto. “Ketegangan dan Keindahan”. Tempo, 8 Agustus 1999

“Wara Anindyah mengangkat tema wanita dalam lukisannya. Tidak merintih dalam kepedihan.”

Joko Syahban, “Feminisme Gaya Wara”. Gatra, 18 November 2000

            “Yang ditampilkan Wara sangat menggugah dan inovatif. Bentuk figurnya yang dideformasi tetap hidup manusiawi tanpa hilang kesan kewajarannya. Sosok itu luwes seperti berdarah dan berdaging serta bernapas.”

“Lukisan Ketegangan Batin Wara Anindyah”. Harian Meteor, 15 November 2000

“Wara menyantap novel sastra minimal 20 buah sebulan. Novel Sampar Albert Camus dan Sehari dalam Hidup Ivan Denisovich Solzhenitsyn sudah 10 kali dibaca ulang. Karya sastra dijadikan semacam pelatuk untuk meledakkan imajinasinya.”

Bersihar Lubis. “Mengusik Raksasa Tidur”. Gamma, 15-21 November 2000
           
            “Daya pagut visualitasnya tak hanya pada bentuk, garis, ataupun nuansa warna. Namun terpancar pula kisah yang tergores di balik performance-nya. Dan ini bisa multidimensi, seakan mencipta banyak gambaran di balik satu gambaran yang lengkap.”

Sri Iswati. “Dunia Senyap Menggetarkan”. Tabloid Tokoh, 4-10 Desember 2000

“Lukisan-lukisan Wara Anindyah yang hening dipadati cerita dan sugesti kegaiban karya-karya yang kaya akan bobot katarsis.”

Mas’d T. “Dunia Batin Wara Anindyah”. Panji, 22 Desember 2000

            “Intelektualitas itu justru jadi kekuatan Wara dalam mengaktualisasikan kepedihan, kegembiraan dan kecintaannya kepada dunia.”

Triyanto Triwikromo. “Tamasya Imajinasi Bersama Wara Anindyah. Suara Merdeka, 8 Januari 2001

            “Melihat lukisan Wara Anindyah orang banyak tercengang. Tercengang karena menampilkan gaya dan karakter unik, mistis, dengan sedikit unsur ganjil. Tapi anehnya mengundang kegembiraan luar biasa bagi penikmatnya. Daya artistik dan estetiknya sangat kuat sehingga mampu mengusir setiap hal yang dirasa tidak menyenangkan hati. Bahkan cendekiawan Prof. Dr. Sri Edi Swasono terpukau oleh inovasi-inovasinya.”

Ferdy. “Perempuan-perempuan Ganjil”. Top Nomor 43, Tahun II, Januari 2001

“Bagi Wara, melukis merupakan suatu usaha untuk mengolah sukma. Saat melukis merupakan saat berkencan dengan diri sendiri. Berdialog, bercanda, bertengkar dan bertatapan penuh serta bersetubuh. Pendalaman dilakukan. Jagat pikir dan rasa digodog untuk dimatangkan. Misteri besar dimasuki, yakni suatu misteri yang dapat mengawinkan dengan selaras dua gejala: keinginan pada kesempurnaan dan keinginan pada Keabadian.”

Ibnu Syamsuri. “Misteri Kasih Sayang Wara Anindyah”. Kalam, 8 April 2001

“Dengan ketenarannya yang sekarang ini, Wara seperti tak paham bahwa posisinya telah berubah. Ia masih wanita yang pendiam dan sederhana seperti semula.”

Prie GS. “Periode Buka Puasa”. Cempaka, 11 April 2001

“Karya Wara bukan sekadar gambaran visual yang dibekukan tapi berisi pandangan batin. Tumbuh dari semangat daya cipta yang murni. Lukisannya hidup, karena Wara meniupkan napas kehidupannya sendiri ke dalam karya.”

Gimo Hadiwibowo. “Wara Anindyah, Seniman Kreatif 2000 PWI Yogyakarta. Surabaya Post, 29 April 2001

“Wara always views one of the cultural activities from another angle. This is one of her characteristics, or part of her conceptual orientation: a kind of willingness to follow the wanderings of her imagination, albeit sometimes discarding the normally accepted structures and esthetics. She does not beautify her subjects. On the contrary, she depicts them in an enigmatic context.”

M. Dwi Marianto. “Wara Anindyah Reflects Chinese Culture in Art”. The Jakarta Post, 9 August 2001

“Wara telah menampilkan deformasi bentuk yang khas yang dewasa ini sudah menjadi miliknya, mewarnai seluruh lukisannya. Terutama pelukisan tampang orang Tionghoa dengan wajah bulat bersih, mata sipit, kadang tak beralis, gigi kelihatan, pipi bergincu, dandanan yang necis, ornamentik, ada hiasan pada rambut.”

Danarto. "Wara Anindyah, Sang Sutradara". Republika, 19 Agustus 2001

            “Munculnya tema masyarakat Cina itu dipertanyakan sendiri, apakah itu dipicu oleh kerinduannya sendiri akan masa silam? Sesuatu yang berbau Cina itu seperti memanggil-manggilnya.”

Bre Redana. “Wara, Dia Sendiri yang Tahu”. Kompas, 30 November 2001

“Gambaran Wara dalam menumpahkan imajinasinya ke dalam kanvas, seolah-olah penggalan kisah dari sebuah sandiwara. Sebuah kisah yang diusung dalam sebuah fragmen hidup. Wara mampu memberikan ritual bagi hidup, dan menebarkan semacam babakan cerita pada lukisan-lukisannya.”

Edy A. Effendi. 2001. “Pengembaraan Wara ke Negeri Cina”. Media Indonesia, 2 Desember 2001

            “For young artist Wara Anindyah, painting is a calling that cannot and must not be ignored lest she’ll be spared no peril. Apparently, painting is when she can be herself, and it’s then that she comes to real life.”

Carla Bianpoen.“Wara Anindyah’s Paintings Disclose Dark Revelations”. The Jakarta Post, 4 December 2001

            “Perjalanan seni lukis Wara Anindyah adalah perjalanan seorang sutradara yang menghadirkan drama di panggung kanvasnya. Wara banyak berfilsafat, seolah seni lukis—juga hidup ini—bisa diatasi dengan filsafat. Dari kelenturan filosofi yang dia yakini itu, dia mengumbar imajinasinya.”

Danarto. “Wara Anindyah Mencipta Drama”. Kompas, 8 Desember 2001

“Menurut sastrawan-budayawan Danarto, lukisan Wara memiliki pancaran aura yang kuat dan bergaung panjang. Sedang penari Sardono W. Kusumo menilai lukisan Wara punya daya performance yang memikat. Politisi Laksamana Sukardi menyukai rasa karikaturistiknya. Sementara itu, jurnalis Fikri Jufri yang menyebut Wara sebagai Frieda Kahlo from Indonesia, menilai lukisan Wara sangat problematis dan dilingkari misteri.”

Endang Susanti Rustamaji. “Wacana Gender dalam Lukisan Wara Anindyah”. Minggu Pagi, Desember 2001

“Wara melukis dengan mengikuti kata hatinya, tanpa patokan, dengan metodenya sendiri. Dengan tangkas ia merealisasikan imajinasinya di atas kanvas. Namun, dengan dasar realismenya yang kuat, lukisannya tak mengada-ada.”

Heryus Soputro. “Wajah Bulat dan Lucu karya Wara Anindyah. Femina, 10-16 Januari 2002

            “Wara Anindyah adalah pelukis yang tak henti menguak Tionghoa. Karyanya yang karikatural adalah perwujudan arwah leluhur, dengan selalu mengucapkan sin cun kiong hi-gong xi fa cai.

Agus Dermawan T. “Melihat Panggung Tionghoa Melalui Wara”. Suara Pembaruan Minggu, 27 Januari 2002

            “Ajaran dan budaya Cina memberinya banyak kesadaran akan arti kehidupan. Semuanya tak hanya disimpan dalam jiwa, tapi dibagikan Wara lewat karya-karya lukisannya yang unik.”

E.S. “Tamu Asing di Kanvas Wara”. Majalah Dewi, Februari 2002

            “Wara kini makin menekankan pentingnya perjuangan keras di dalam mencapai kualitas. Perjuangan keraslah yang akan memberi nyawa pada sebuah lukisan. Maka ia pun merasa harus melukis dengan ‘darah’ bukan sekadar dengan cat.”

Handoko Adi Nugroho. “Wara Anindyah Gelar Romansa Bintang Pagi”. Bernas, 24 Maret 2004

            “Melukis adalah pekerjaan keabadian. Pantangan bagi pelukis adalah berkarya dengan kekuatan setengah hati. Totalitas dan seluruh potensi terbaik harus diberikan pada setiap karya yang dibuat. Sebab pada karyanyalah harga diri seorang seniman diletakkan. Tampaknya, seperti itulah keyakinan Wara.”

Risa Alkatiri. “Romansa Bintang Pagi Wara Anindyah”. Pikiran Rakyat, 4 April 2004

            “Tak salah pula budayawan Goenawan Mohamad yang menilai Wara sedemikian terobsesi oleh pencarian diri manusia sebagai misteri besar kehidupan. Wajarlah jika ekspresi artistiknya terbentang dalam tegangan penuh debaran. Ia seperti berbicara dalam keterpesonaan.”

Karni Nurhayati. “Badai Keheningan Wara Anindyah”. Media Indonesia Minggu, 4 April 2004

            “Menengok hati, menggedor jiwa, mencari dan mengaduk-aduk kreativitas sehingga memunculkan ide-ide yang selalu bagus. Akhirnya lukisannya mampu memberi inspirasi pengaruh positif bagi orang lain.”

Titi Yulianti. “Wara Melukis dengan Jiwa”. Surya Post, 5 Maret 2007

            “Melukis adalah sebuah perjalanan menuju jiwa dan lukisan adalah ungkapan dari perjalanan itu. Sampai sekarang, pelukis Wara Anindyah masih terus menempuh perjalanan itu. Dengan melukis, ia mencoba mengenali jiwanya dan mengolah intuisinya agar bisa sampai pada kedalaman jiwanya. Bila sampai ke kedalaman jiwa itu ia yakin akan beroleh tak hanya daya untuk hidupnya tapi juga daya untuk matinya. Dalam melukis, Wara tak memisahkan daya untuk hidup dan daya untuk mati, yang berasal dari kedalaman jiwa itu. Hasilnya adalah karya-karyanya yang khas dan orisinal, di mana kefanaan dan kekelan berimpit-impitan.”


Sindhunata. “Ke dalam Tangan-Mu”. Katalog In Your Hands, September 2014

Saksikan PAMERAN TUNGGAL WARA ANINDYAH di NATAN ART SPACE, NDalem Natan Royal Heritage Yogyakarta tanggal 21 Oktober - 17 November 2016. 
Dengan tajuk CINTA YANG INDAH, sebanyak 61 lukisan yang dikurasi Ratu Pandan Wangi ditampilkan berfokus pada makna cinta dalam kajian yang filosofis dan simbolis. Tak terlalu berat namun menukik ke dalam. Visualisasinya mewah dan hiper-estetis. Menjadi santapan lezat bagi mata maupun jiwa. Pengunjung diajak memahami makna cinta melalui berbagai objek memikat.

PEMBUKAAN PAMERAN pada hari Jumat, 21 Oktober 2016 pukul 19.00 di NATAN ART SPACE Jl. Mondorakan No.5, Kotagede Yogyakarta, diresmikan Prof. Nasir Tamara, APU, Ph.D, MA, MSc. Classical Guitar Performance by Henry Yuda Oktadus.
Pameran buka setiap hari jam 10.00 - 20.00 WIB, hingga 17 November 2016. FREE.

Postingan populer dari blog ini

SRI HARJANTO SAHID

WARA ANINDYAH

Tentang Seruni Art Management