Keindahan di Balik Pameran Wara Anindyah


MALAM itu Ndalem Natan Royal Heritage tampak menawan. Lampu yang remang-remang membiaskan cahaya romantis ke arsitektur bangunannya yang antik. Lebih dari seratus orang dari berbagai negara hadir untuk menyaksikan pembukaan pameran tunggal lukisan Wara Anindyah pada Jumat (21/10). Tak lama kemudian, gong dibunyikan oleh Prof Nasir Tamara sebagai tanda peresmian pameran. Pintu-pintu galeri pun dibuka, memperlihatkan deretan lukisan yang dipajang apik. Pengunjung pun menyeruak masuk untuk menghikmati karya sang pelukis.
Dengan mengusung tema Cinta yang Indah, pameran itu menghadirkan 61 lukisan dalam berbagai ukuran. Semua ditata di sudut-sudut Natan Art Space. Lantai satu didominasi karya-karya berukuran kecil yang manis. Terdapat jajaran lukisan hitam putih dengan bingkai emas. Sebagian menggambarkan orang-orang Tionghoa dalam berbagai adegan. Di antaranya, karya berjudul Putri sang Surya (2016) yang melukiskan sepasang suami istri menggendong bayinya yang baru lahir. Bayi itu melambangkan anugerah besar dalam sebuah keluarga.
Ada pula lukisan pasangan pengantin yang bahagia, seorang nenek yang sedang berdoa, sepasang kekasih di tepi kolam, dan masih banyak lagi. Wara mampu menghadirkan kesan hangat dalam sapuan kuasnya yang luwes.
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah Rahasia Mawar (2004). Dengan nuansa kelabu yang lembut, karya itu menggambarkan seorang perempuan membawa mawar merah jambu. Mawar itu melambangkan sosok perempuan yang identik dengan pesona kecantikan. Namun, melalui sapuan-sapuan kuas yang terkesan dalam, Wara menghadirkan sisi lain yang tak terpisahkan dari perempuan.
”Saya ingin menyampaikan bahwa selain cantik, wanita juga menyimpan kekuatan, keberanian, dan kemandirian,” jelas Wara. Pelukis berusia 47 tahun itu pernah dinobatkan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIJ sebagai Seniman Paling Kreatif Tahun 2000.
Keindahan turut memancar dalam karya berjudul Sehidup Semati (2016). Lukisan itu menggambarkan sepasang pengantin dalam busana tradisional Jawa. Hadir dalam nuansa merah dan hijau tua yang memikat. Mereka melambangkan ikatan pernikahan yang suci dan tak lekang oleh waktu. Menurut catatan, di Ndalem Natan Royal Heritage telah diselenggarakan sekitar 1.500 kali pesta pernikahan. Kini pameran Wara ikut merayakan keindahan cinta di sana.
Sebelumnya, lukisan-lukisan yang dipamerkan telah dipilih dengan cermat. Selama ini, Wara terkenal akan karya-karyanya yang bertema berat dengan suasana ganjil dan bernuansa cenderung kelam. Dia mampu menghadirkan keindahan di balik ketegangan psikologis. Namun, sebenarnya Wara juga menciptakan cukup banyak karya yang bertema ringan dan lembut. Menonjolkan keceriaan dan kebahagiaan serta merayakan keindahan hidup dan kehidupan.
Karena itu, kali ini Seruni Art Management menyelenggarakan pameran Wara dengan konsep yang berbeda. Para pengunjung pameran dibuat terpana oleh keunikan karya yang menggetarkan hati.
”Kami harap pameran ini bisa memberi inspirasi dan pencerahan batin bagi siapa pun yang melihatnya,” kata Seruni Bodjawati selaku direktur Seruni Art Management.
Pameran tunggal Wara berlangsung hingga 17 November nanti. Masih dalam rangkaian pameran, Seruni Art Management akan menggelar pula pameran tunggal Sri Harjanto Sahid, suami Wara Anindyah, pada 25 November–5 Desember 2016 di Tahunmas Artroom. Dilanjutkan dengan pameran 55 perupa pada 9–22 Desember 2016 di tempat yang sama. 


Ratu Pandan Wangi
Pemerhati seni rupa di Jogjakarta

Postingan populer dari blog ini

WARA ANINDYAH

SRI HARJANTO SAHID

Tentang Seruni Art Management