Pameran "Sastra Rupa Sri Harjanto Sahid': Menaklukkan Badai, Memburu Masa Lalu


Karena cinta
beha-Mu kubuka
kunikmati isinya.

PUISI yang diresensi sebuah koran sekitar tahun 1983-1985 (lupa persisnya) itu mengendap dalam benak hingga saat ini. Waktu itu saya masih SMP. Membaca resensi tersebut di papan baca SMPN Tridadi Sleman.
Bukan 'kekurangajaran' puisi berjudul Buah Dada, Buah Cinta yang sebenarnya religius yang menarik. Tapi sosok penyairnya: Sri Harjanto Sahid yang dalam ulasan tersebut disebut 'fotokopi' Rendra (karena membaca puisinya 'nggegirisi' seperti Rendra). Menarik. Makin menyemangati mewujudkan cita-cita sebagai penyair yang (saat itu) 'berkibar-kibar'.
Makin terkagum setelah melihat Harjanto tampil di TVRI Yogya sekitar 1985, diwawancara setelah jadi aktor terbaik nasional. Penampilannya khas seniman, berambut gondrong. Namun dengan tutur bahasa begitu halus. Sopan. Di acara itu Harjanto membaca puisi Rendra berjudul Gugur. Kehebatan membaca puisi tersebut menambah gairah merambah kancah kesenian. Nama Sri Harjanto Sahid sempat saya catat di notes kecil, sebagai seniman (penyair) penginspirasi.
Kini, 30 tahun kemudian, nama itu kembali harus dicatat. Berkait pameran tunggalnya bertajuk 'Sastra Rupa Sri Harjanto Sahid' di Tahunmas Art Room, Kasongan Bantul Yogyakarta. Peristiwa bermakna. Mengukuhkan eksistensi kesenimanan Harjanto yang total. Berkesenian di tiga bidang sekaligus: teater, sastra, dan seni rupa.
Sebanyak 45 lukisan dipajang dari 25 November - 5 Desember 2016. Pameran dibuka Sindhunata, dikuratori Heri Kris. Penyelenggaranya Seruni Art Management.
Banyak yang terperangah saat Harjanto melukis. Selama ini publik kesenian mengenalnya sebagai orang teater dan sastra. Bapak lima anak ini dramawan andal pada masanya. Trofi Ibu Tien Soeharto yang diraih setelah dinobatkan sebagai Aktor Terbaik Festival Drama se-Indonesia di Jakarta tahun 1985, bukti nyata. Di kancah sastra idem. Karya-karyanya bertebaran. Dari puisi, cerpen, esai, hingga naskah drama.
Maka ketika tiba-tiba muncul sebagai pelukis, gunjingan tidak sedap pun bermunculan. Ada yang menyebut Harjanto melukis setelah istrinya (Wara Anindyah) naik daun sebagai pelukis. Tudingan itu tentu saja tidak benar. Dalam obrolan dengan MP Harjanto mengungkapkan, seni lukislah yang justru pertama kali didalami. Dari SD hingga SMP. "Saat SMA saya vakum melukis, pindah menggeluti drama dan sastra. Tahun 1993 saya kembali intens melukis," ujar Harjanto. Jawaban yang menegaskan dirinya bukan pelukis 'dadakan' seperti yang disangka orang.
Maka pameran ini jadi 'perayaan' 23 tahun eksistensi di kancah seni rupa.

Kekuatan Titik

ADA pemandangan tidak lazim dalam pameran ini. Begitu masuk ruang pamer, pengunjung disuguhi dua lukisan yang sengaja diletakkan menghadang di pintu masuk. Dua-duanya bukan karya Harjanto. Karya Wardi Bajang dan Lulus Santosa, pelukis yang sudah almarhum. Kedekatan dengan dua sohibnya tersebut membuat Harjanto mantap menampilkan dua lukisan yang sudah dikoleksinya itu. Sebagai persembahan dan penghormatan.
Di belakangnya dipajang karya Harjanto berjudul Hidup itu Puisi (2000). Sebagaimana judulnya, dalam kanvas tersebut tidak hanya tergores sapuan kuas. Juga tertulis tiga puisi: Cermin Kawin, Skenario, Demonstran. Pun petikan banyak puisi. Termasuk Karena cinta, beha-Mu kubuka, kunikmati isinya. Karya inilah kolaborasi sastra dan seni rupa.
Beberapa lukisan juga tercoret kalimat puitis Harjanto. Seperti Drama Seratus Babak (2000). Tak berlebihan bila pameran ini menggunakan titel 'sastra rupa'. Beberapa orang juga sepakat dengan titel tersebut, mengacu eksistensi Harjanto.
Yang wajib dicermati, karya-karya yang mengandung titik. Permainan titik agaknya menjadi ciri khas Harjanto. Karakter seniman budayawan kelahiran Sragen, 25 November 1961 yang penyabar sepertinya membantu dalam menuang ratusan atau malah ribuan titik di kanvas. Butuh ketekunan. Dan Harjanto lolos dari 'lubang jarum' itu.
Superwoman, Tiga Memeluk Takdir, Gerhana Siang, Rumah Rindu, Sang Eksistensialis, Rindu Mati 1/2 Abad, Phylosophical Debate, Rumah yang Hilang, Adu Perut Adu Edhas Adu Jotos, Matinya Sang Bidadari, Ular Makan Sepur Dimakan Ikan Cethul, dan Berburu Masa Lalu, mengandung banyak titik (bulatan). Titik-titik (bulatan-bulatan kecil) merupakan simbol yang dipakai Harjanto. Simbol yang belum tentu bisa ditangkap seketika, termasuk oleh pelukisnya.
Butuh waktu untuk bisa menerjemahkan karya-karya Harjanto. Pengakuannya, ia kadang juga bingung dengan lukisan yang dibikinnya. "Kalau ditanya itu gambar apa, saya bingung, tidak tahu. Dan itu bikin jengkel. Setelah berjalannya waktu, akhirnya baru paham. Seperti lukisan Sang Penjinak Badai yang ternyata menggambarkan sosok Ibu saya," beber mantan mahasiswa ABA YIPK, ASDRAFI, ISI Yogya, dan Sekolah Tinggi Filsafat STIKH itu.
Dalam melukis, Harjanto sering menggunakan ilmu teater: improvisasi. Warga Lowanu Umbulharjo Yogyakarta ini sangat produktif. Ada ide atau tidak, harus berkarya. Di kanvas, sebuah garis yang dicoretkan awal akan diimprovisasikan, hingga menjadi sebuah karya. Wajar bila sering kebingungan memaknai karyanya.
Bila lukisan adalah sebuah makna, karya-karya Harjanto sangat dominan makna. Ada pesan yang tercoret menuruti bawah sadar. Meski ada beberapa karya yang diakui diawali sket.
Makna kuat mencuat dari lima lukisan bertema konthol, yaitu Pasukan Konthol Beracun, Gunung Konthol, Mencuri Konthol Raksasa, Konthol Mumet 100 Triliun, dan Presiden Republik Konthol. Bukan mencari sensasi atau bersaru ria bila meminjam kelamin laki-laki sebagai judul. Semata berdasar pengalaman empirik seseorang yang mengalami ejakulasi dini. Secara filosofis Harjanto bertanya apakah manusia sudah berbuat adil pada alat kelamin laki-laki itu? Sudahkah berterima kasih? "Ketika (alat kelamin itu) mogok, kita marah. Mengucapkan namanya saja malu. Bahkan kalau diucapkan, itu pun untuk mengumpat," keluh Harjanto. Realitas itu yang melatarbelakangi lahirnya lukisan bertema konthol.
"Ini kan pakai 'th', jadi tidak saru. Dalam idiom Jawa, justru malah mistis. Saat remaja saya pernah membaca mantra yang ada kata-kata itu. Setelah itu saya ditusuk pedang tidak mempan. Ini benar. Berarti kata itu mistis", urai penerima lebih 100 piagam penghargaan seni itu.
Selain makna, kekuatan karya-karya Harjanto yang dipamerkan ini terletak pada warna. Ada kemegahan yang tercuat. Pun puitis dan dramatik. Itulah ikon seorang Sri Harjanto Sahid yang dalam pembukaan pameran ini sekaligus merilis buku 12 naskah drama Kisah Dua Lelaki Hamil.
Perjalanan panjang yang dilalui tak kenal lelah, produktivitas, juga keberhasilan mengatur keluarga (menjadi keluarga seni rupa sukses), tidak sekadar improvisasi sebagaimana diterapkan di panggung teater. Menandaskan sebuah konsistensi dan kematangan pola pikir yang mengacu hukum akal sehat.

Sri Harjanto merupakan 'penjinak badai' yang kini tengah 'berburu masa lalu' lewat pameran tunggal ini. Pejuang yang berhasil melewati ejekan, proses, serta keberhasilan di kancah seni. Seni itu indah dan berguna, kata Quintus Horatius Flaccus, penyair Romawi. (Latief ENR)


(Minggu Pagi No 35 Th 69 Minggu 1 Desember 2016)

Postingan populer dari blog ini

WARA ANINDYAH

SRI HARJANTO SAHID

Tentang Seruni Art Management