Pameran Tunggal Wara Anindyah: Opus Pengantin dan Keluarga Tionghoa


Pelukis Wara Anindyah kembali berpameran tunggal. Kali ini di Natan Art Space, Ndalem Natan Royal Heritage Kotagede Yogyakarta. Mengusung tema Cinta yang Indah. Sebanyak 65 lukisan dipajang di tempat tersebut, mulai 21 Oktober-17 November 2016.
Siapapun tahu, Wara bukan pelukis baru. Bisa dibilang, termasuk salah satu pelukis papan atas Yogya dan Indonesia. Karya-karyanya punya ciri khas dan berkarakter.
Mayoritas lukisan yang dipajang di pameran yang dikuratori Ratu Pandan Wangi ini bertema pengantin. Seperti lukisan berjudul Pernikahan Matahari ddan Bulan, Pengantin Jawa, Sehidup  Semati, Janji Suci, Cinta Sunyi, Lonceng Kebahagiaan, Membuka Kelambu Kebahagiaan, Hari Baru Terbuka, Lagu Cinta, Cinta dan Kemakmuran.
Selain memang suka menuangkan imajinasi beraroma kebahagiaan (menikah), lokasi pameran juga menjadi latar belakang diusungnya banyak lukisan bertema pengantin.  Menurut Sri Harjanto Sahid, manajer Wara Anindyah, Ndalem Natan sering digunakan untuk respsi pengantin. Tercatat 1500 resepsi telah dihelat di tempat tersebut. Maka, koleksi bertema pengantin banyak yang dipilih, ditampilkan.
Beragam ekspresi mencuat di kanvas pengantin. Ada pasangan yang tegang, misterius, hingga terlihat jenaka saking bahagianya. Terpamapang jeals, Wara ingin menandaskan bahwa menikah adalah awal kehidupan sesungguhnya, yang siap dihinggapi beraneka kejadian yang berujung duka atau suka.
Di luar tema, yang terlihat mencolok di pameran ini: banyaknya lukisan hitam putih. Sejak 2009, Wara melirik lukisan hitam putih. Menggunakan tinta Cina.
“ Saya suka warna hitam putih karena tingkat kesulitannya tinggi. Di situlah tantangannya. Butuh ketelitian, tidak boleh salah,” ujar Wara, kelahiran Magelang 25 Agustus 1969.
Dengan dua warna itu justru muncul ‘kekuatan’ dalam karya-karya Wara. Di antaranya Doa Bagi Perdamaian, Penjaga Samudera, Menyatukan Hati dan Rasa, Wanita Pilihan Dewa, Gadis Pecinta Bunga, Menghormati Leluhur, Pelindung Kesucian, Peuah Nenek, Puisi Tentang Bulan.
Belakangan, Wara memang lebih sering berhitam putih. Melukis berwarna sesekali saja. Berdasar keinginan hati, juga demi mewujudkan keinginan menggelar pameran tunggal khusus lukisan hitam putih. Di pameran ini, 75 persen lukisan hitam putih, sisanya 25 persen warna.
Dari sejumlah lukisan hitam putih ‘berwibawa’ itu, mayoritas berlatar keluarga Tionghoa. Dalam imaji Wara, kehidupan keluarga Tionghoa menggumpalkan banyak cerita yang tak habis dieksplor. Dan bukan kebetulan kalau Wara berasyik masyuk dengan keseharian masyarakat Tionghoa. Wara berdarah Tionghoa. Ia juga sempat ke China. Sebulan di negara tersebut, memelajari sejarah kebudayaan dan kehidupan soisal masyarakatnya. Pernah juga menikmati pecinan-pecinan di Kuala Lumpur.
Sejak 2000, Wara sudah menjelajah imaji di seputar negeri leluhurnya.
Ciri khas lain karya Wara adalah perempuan. Sering mengangkat potret kaum Hawa. Rahasia Mawar atau Romansa Bintang Pagi, amsalya. Tergambar sosok perempuan berdiri dengan tangan menggenggam seikat bunga. Ekspresi dingin dari tokoh (perempuan) tersebut, mengalirkan kenikmatan beterbangan ketika benak dan batin mampu menerjemahkan.
Toh begitu, ada juga yang di luar ikon. Seperti Puisi Dunia yang berukuran 22 X 30 cm,  dibuat tahun 2005. Setangkai bunga tertutup tabung transparan dan terletak di pinggir sawah. Atau Kenangan yang Hidup dalam Ingatan (2005), dikiaskan gambar kaktus dan segelas kopi. Lukisan tahun 2005 ini, menurut Wara, bermakna bahwa duri kaktus menyakitkan (bila terkena tubuh), juga segelas kopi pahit sangat tidak mengenakkan. Maka dua barang itu menjadi kenangan agar tidak terjerumus di situ.
Dari puluhan lukisan terpajang, ada satu yang paling disukai Wara: Hikayat Waktu yang Terbakar. Lukisan berukuran 180 X 180 cm tersebut dibikin tahun 2015, memakan waktu sebulan.
“Banyak pengalaman dan memori yang tertuang di situ,” papar Wara yang dinobatkan sebagai Seniman Indonesia Paling Kreatif tahun 2000 versi Persatuan Wartawan Indonesia.
Saling keterkait lukisan-lukisan di pameran ini, ibarat sebuah opus yang dialunkan dalam konser orkestra. Karya yang terkelompokkan dan berurutan.
Apa pun ‘opus’ yang dihasilkan Wara, agaknya akan tercatat dalam sejarah. Dari awal, sejarah ketekunannya dan hasil-hasilnya telah terakui. Maka yang dibelakang, otomatis akan mengikuti. Diakui. (Lat)


(Minggu Pagi No 30 th 69 Minggu V Oktober 2016)

Postingan populer dari blog ini

WARA ANINDYAH

SRI HARJANTO SAHID

Tentang Seruni Art Management