Amor Fati in Absentia: Duo Exhibition by Wara Anindyah & Seruni Bodjawati, Book Launching by Ratu Pandan Wangi


Pameran dan Book Launching
Amor Fati in Absentia

Yogyakarta, 7 Maret 2017. Malam ini Seruni Art Management menyelenggarakan pameran lukisan di Greenhost Boutique Hotel, Prawirotaman. Dengan tajuk Amor Fati in Absentia, hadirlah pertarungan artistik ibu-anak antara Wara Anindyah dan Seruni Bodjawati. Pameran diresmikan oleh Elisabeth Inandiak, sastrawati pemenang Penghargaan Sastra Asia dan penerjemah Serat Centhini. Hingga 7 April 2017, enam belas lukisan Wara dan Seruni akan dipamerkan. Karya-karya tersebut terinspirasi oleh buku kumpulan cerpen Ratu Pandan Wangi (penulis dan pemerhati budaya dari Sastra Perancis UGM). Diharap audiens dapat memahami kompleksnya manusia dalam memaknai cinta.

Wara Anindyah dan Seruni Bodjawati adalah dua perupa perempuan yang karya-karyanya memiliki karakteristik kuat. Karya-karya Wara mengandung kedalaman makna yang kontemplatif, sedangkan Seruni berani menghadirkan objek-objek visual yang intens dan dramatis. Dengan tema-tema yang menggambarkan pergulatan diri dan kompleksitas cinta, Seruni dan Wara menghadirkan karya yang sangat kontras baik dari segi ide maupun eksekusi visualnya. Perbedaan spirit, teknik berkarya, pemilihan objek visual, hingga pengalaman hidup dapat menjadi analisis menarik bagi para penikmat karya.


Kedua perupa ini berkolaborasi dengan konsep amor fati yang berasal dari bahasa Latin. Amor berarti cinta, sedangkan fati berarti takdir. Jadi amor fati bisa dimaknai sebagai cinta kepada takdir. Paham ini dipopulerkan oleh filsuf terkenal, Friederich Nietzsche. Takdir memang memegang peranan penting dalam hidup, tapi manusia tetap harus berjuang dan berusaha. Sementara itu, in absentia adalah istilah bahasa Latin yang secara harfiah berarti "dengan ketidakhadiran". Dalam istilah hukum di pengadilan, in absentia adalah upaya mengadili seseorang dan menghukumnya tanpa dihadiri oleh terdakwa tersebut. Bisa juga disebut ketiadaan atau kenihilan.

“Supaya tak terjebak dalam nihilitas cinta, manusia perlu mengalir bersama takdir. Berjuang dan berusaha memang penting, tapi berserah diri juga perlu, termasuk dalam cinta. Inilah yang ingin saya dan Bu Wara sampaikan dalam lukisan,” jelas Seruni.

Salah satu lukisan Wara yang menyedot perhatian berjudul Forbidden Love (2017). Karya ini menggambarkan dua wanita kulit hitam yang saling mencintai. Mereka menjalin hubungan yang lebih serius hingga maut memisahkan. Takdir cinta mereka tak kalah dengan cinta biasa, terkadang justru lebih indah.

Seruni turut menyemarakkan pameran dengan lukisan berjudul A Star is Born (2012). Karya ini menggambarkan Salvador Dali dan Gala sebagai ikon hubungan cinta yang fantastik dan absurd. Ada misteri dan keajaiban tak terduga yang disampaikan melalui kisah hidup mereka. Menyimpan teka-teki abadi dan makna yang terus menebarkan spirit artistik.


“Melalui konsep ini, kami ingin mengingatkan orang-orang untuk mencintai diri sendiri. Makin banyak cinta yang berkumpul dalam diri kita, makin banyak pula cinta yang bisa dibagikan.” kata Pandan sekaligus menjelaskan isi bukunya. Sebagian karya Wara dan Seruni yang dipamerkan akan menjadi ilustrasi untuk buku tersebut.

“Sebagai sebuah kesatuan peristiwa, apa yang dilakukan ketiga perempuan ini sejatinya tengah membongkar jejaring kerja yang berkaitan antara produksi gagasan dan produksi artistik seniman. Ketika kisah telah lahir menjadi ide, dari sanalah kemudian tubuh dapat bergerak untuk menciptakan bentuk sekaligus menghadirkan sebuah wawasan melalui visual,” kata Nilu.

Pembukaan pameran turut dimeriahkan oleh Grangi Guitar Duo, yaitu kolaborasi Eddo Diaz dan Henry Yuda Oktadus. Setelah digelar selama sebulan, pameran akan ditutup oleh peluncuran buku kumpulan cerpen Pandan berjudul Amor Fati: Cinta yang Nihil. Buku tersebut berisi 20 cerpen tentang cinta dari berbagai sudut pandang. Tak hanya cinta antara lelaki dan perempuan biasa. Ada juga cinta lain dimensi kehidupan, cinta berbeda ras dan agama, cinta pada benda mati, dan lain sebagainya. Kumpulan cerpen itu akan dibahas pada 7 April 2017 di Greenhost Boutique Hotel. Dalam bentuk apa pun, cinta selalu indah untuk diwujudkan dalam karya seni.


Info lebih lanjut dapat mengunjungi situs www.seruniartmanagement.com

Postingan populer dari blog ini

WARA ANINDYAH

SRI HARJANTO SAHID

Tentang Seruni Art Management