Menakar Ke-indonesiaan : Tionghoa Diatas Kanvas



Menakar Ke-indonesiaan : Tionghoa Diatas Kanvas
Oleh : Ardian Purwoseputro

Melukis  Hal-Hal Terindah dan Terbaik tentang Nusantara, sebuah Preambule
Seakaan tiada akhir, itulah sebuah ironi kemajemukan di bumi Nusantara ini. Nusantara yang kini disapa dengan Indonesia, sejak kala purba telah dianugerahi dengan  bermacam-macam  suku bangsa, bahasa, adat istiadat, kepercayaan yang mendiami dan tumbuh subur berserakan di antara nusa-nusanya dan laut-lautnya yang gemah ripah loh jinawi.  Sebuah karunia terbesar yang tiada duanya di planet biru ini!.
Sayang karunia-karunia besar itu tidak dimanfaatkan secara  maksimalsebagai kekuatan untuk membangun kebesaran bangsa. Yang terjadi adalah, bangsa ini selalu tercabik-cabik dan dilukai dengan isu-isu yang benuansa SARA yang tiada pernah berakhir, mengakar bagaikan sel-sel  kanker  yang segera melumpuhkan bahkan mematikan tubuh  bangsa ini.Bagaikan bom waktu yang disimpan di rumah sendiri, yang bubuk mesiunya selalu diisi terus menerus, kemudian diledakkan sewaktu-waktu. Barangkali kemajemukan hanya dimaknai sebagai komoditas yang bernilai ekonomi sangat tinggi dan strategis  dalam konteks tertentu, waktu tertentu  dan oleh orang-orang tertentu.
Dan tiba-tiba lamunanku membawaku  ke masa silam, lamat kudalami kalam Tan Malaka diawal-awal bahkan jauh sebelum Republik ini berdiri : “Selama Indonesia ke dalam tetap bersatu dan solider, selama itu mereka (Negara Imperialis) akan menangguhkan usahanya merampas Indonesia. Akan tetapi begitu lekas perpecahan di dalam, mereka akan segera mendapatkan jalan melaksanakan untuk sekian kalinya politik devide et impera-nya (memecah belah rakyat dalam golongan-golongan  untuk dikuasai). Indonesia terdiri dari dari pelbagai pulau yang berada pada pelbagai tingkatan kebudayaan, itu memberikan lapangan yang sangat baik bagi pencuri-pencuri internasional”.
Terlepas apa haluan ideologi nya, jelas pemikirannya di masa silam tetap berkorelasi dengan kekinian, seakan menjadi semacam “rambu” , menjadi semacam “early warning system”  yang sinyalnya mampu berkedip dan memberi tanda sepanjang perjalanan hayat bangsa ini.Dan barang siapa mengerti, berbahagialah hidupmu dan anak cucumu dibawah angin selatan.
Tidak penting untuk saling menyalahkan, menumpuk kesalahan dan memupuk primordialisme,tapi  tidak juga begitu saja menampik dan melupakan coretan-coretan merah di lembar  sejarah yang memalukan. Hanya anda, saya, kita semua  anak-anak bangsa (yang berpikir “dewasa”) ini saja yang tahu bagaimana menulis, merekam, melukis hal-hal yang indah dan terbaik tentang dan masa depan Nusantara ini. Lembaran kanvas baru selalu tersedia, putih dan bersih, kini tinggal kita goreskan dengan warna apa dan motif apakita akan mewarnai bangsa ini.


Dimulai dari Tionghoa…
Dan…lagi-lagi, sekali lagi adalah “Tionghoa”. Macam apa pula Tionghoa itu?.Selalu dan selalu menjadi “kambing hitam”, menjadi obyek yang tidak pernah habis untuk dilekati dengan berbagai stigma.Sang Anak Bangsa yang menjadi salah satu bagian integral dalam perjalanan bangsa Indonesia sejak kala purba, yang paling rentan terimbas tatkala hembusan oral devide et impera ditiupkan.
Bukan mencari sebuah pembenaran, tapi  biarlah estetika  yang akan berbicara realitas tentangnya. Sejarah telah mencatat secara obyektif sekaligus subyektif, formal dan informal  tentangnya di Nusantara sejak ribuan tahun lalu.Terukir  jelas bersamaan dengan detak jantung dan nafas hidup anak-anak bangsa lainnya yang hidup di bawah kolong langit Nusantara ini.Pasang surut kehidupannya yang diproses melintasi berbagai kala dan pemangku kekuasaan dan dipengaruhi banyak faktor, menjadikan mereka dengan bangga menyebut dirinya sebagai “Tionghoa Indonesia”.
 Eksistensinya mempengaruhi  dan saling melebur menjadi satu dengan budaya dan adat istiadat masyarakat setempat, menghasilkan hal-hal baru, budaya-budaya baru, menjadi semacam buah hybrida hasil dari penyerbukan silang (cross-cultural fertilization)  di ladang yang sangat subur lagi kaya makmur, dan ladang itu sekarang kita sebut dengan Indonesia. Sebuah penyerbukan silang yang lentur, saling mengadopsi dan cenderung tidak memaksa dan dipaksa.Dan beruntunglah Nusantara (baca : Indonesia), seperti  yang dilukiskan oleh DenysLombard seorang Indonesianis berkebangsaan Perancis dalam kata pujaannya : “Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini – kecuali mungkin Asia Tengah – yang seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau lebur menjadi satu”.
Tidak cukup untuk dituliskan dalam jutaan kata, peran dan eksistensi Tionghoa sama halnya seperti aliran sel-sel darah yang mengalir dalam detak nadi yang sama, nadi bangsa Indonesia, utuh menyeluruh tak terpisahkan. Dan kini, aliran darah dan nafas-nafas realitas Tionghoa Indonesia didalam  masyarakat itu terframe dengan lugas oleh dua perupa wanita Indonesia dalam goresan-goresan kuas, Wara Anindyah dan Seruni Bodjawati.
Realitas hidup dan kehidupan sehari-hari Tionghoa Indonesia, yang penuh dengan makna filosofi dan simbolisasi tervisualisasiapik namun tetap berbalutkan“misteri  dan mistisme” yang mengundang tanda tanya yang mendalam dan medan magnet yang kuat dalam karya Wara Anindyah dan Seruni Bodjawati. Semua dimulai dari filosofi yang menjadi tujuan dan asa hidup manusia secara universal   yaitu “ Fu Lu Shou” , konsep hidup “utama” masyarakat Tionghoa mengenai   Keberuntungan, Rejeki dan Panjang Umur yang menjadi semacam DNA yang turun temurun tak berbatas oleh geo dan waktu, bahkan keterkekangan politik sekalipun.
Simbol-simbol yang diadopsi dari unsur-unsur semesta raya merupakan bentuk penggambaran akan keterwakilan “ sifat-sifat KeTuhanan” sebagai “tetenger”(dalam bahasa Jawa) atau “penanda”  atau “pengingat”  bagi masyarakat Tionghoa yang kadang disalah mengerti sebagai perselingkuhan dengan Sang Esa. Dan “tetenger” itu sebagian termodifikasi oleh kedua perupa dalam ekspresi visual. Ada cinta, kesetiaan,kesetiakawanan, keabadian, kebahagiaan, kegembiraan, semangat, penghiburan, kemakmuran, kesehatan, perlawanan, sampai bela sungkawa dan duka lara. Semua kembali kepada sebuah equilibrium hidup.
Wara dan Seruni mengexplorasi secara visual filosofi dan simbol masyarakat Tionghoa dalam berbagai scenes.Secenes  realita kehidupan masyarakat Tionghoa Indonesia seutuhnya dan sesungguhnya. Tidak hanya menampilkan filosofi dan simbol sebagai “rectum”, sebagai “pandangan hidup” yang “aplikatif”dan dramatis, tapi juga “simbol-simbol riil” Tionghoa seperti tampak dari obyek visualnya (model pakaian, perabotan, venue, naga, wayang potehi, lampion, mimik, dan lain-lain).  Entah di dalam keduanya mengalir darah Tionghoa, sehingga simbol-simbol riil Tionghoa tetap melekat di karya keduanya - mengingat faktor genetika membuat kebudayaan Tionghoa menjadi satu-satunya kebudayaan tertua di dunia yang bertahan hingga saat ini.Atau mereka tetap berpedoman pada kredo dan pandangan hidup yang dapat mengukuhkan eksistensi mereka sebagai kreator.Seorang pelukis yang bukan sekadar melahirkan karya-karya pabrikan, namun karya-karya murni.
Bagi mereka melukis  merupakan aktivitas kreatif yang dipandang sebagai kebutuhan pokok sebagaimana bernapas dan makan. Melukis bukan sesuatu yang diada-adakan, melainkan menjadi bagian dari hidup sehari-hari.Ideologi juga berpengaruh, namun tidak menjadi sesuatu yang mutlak.Ideologi sekadar untuk masukan. Karenanya, semua karya  mereka adalah murni dari dalam dirinya sendiri. Dan semoga semua karya Wara dan Seruni tidak sekedar bernilai seni sangat tinggi saja, tapi menjadi artefak yang menjadi simbol bagi eksistensi  dan kekayaan keberagaman di  bumi Indonesia.
Kemudian bertemulah simpul-simpul  filosofi dan simbolisasi dalam sebuah ruang yang disebut Nusantara. Nusantaralah yang memberi  ruang komponen-komponen tersebut lebur, menjadi satu, saling mempengaruhi dan saling memberi dan menerima, dan melahirkan hal-hal baru yang baik.Lahirlah sosok-sosok seperti Nyonya Meneer, Dr.Yap, Soe Hok Gie sampai Ahok karya Seruni yang menjadi representasi peleburan unsur-unsur filosofi dan simbolisasi Tionghoa di Nusantara.Juga Cheng Ho yang menemukan wadah Nusantara dalam mengabarkan Islam dan menyemai budaya dan teknologi.Mereka mewakili sebuah spirit nasionalisme, kesetiaan, pengorbanan, kerja keras, cinta dan lain-lain.Mewakili berbagai bidang kehidupan yang telah meng-Indonesia dan menjadi Indonesia.Bagian yang integral dan menjadi kekuatan dan kekayaan negeri ini (kalau mau).
Dan pada akhirnya semuanya  tentang Tionghoa Indonesia, Tionghoa di Indonesia,  yang menjadi Indonesia dan Meng-Indonesia…Dari Indonesia untuk Indonesia.


Jakarta, September 2017

Postingan populer dari blog ini

WARA ANINDYAH

SRI HARJANTO SAHID

Tentang Seruni Art Management